REVITALISASI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA DALAM MENCEGAH DAN MENYELESAIKAN DISINTREGASI SOSIAL DI TENGAH TEKANAN GLOBALISASI

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَـالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَـا وَالدِّيْنِ وَالصَّـلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَـيِّدِ المُرْسَـلِيْنَ مُحَـمٍّد وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . رَبِّ اشْـَرحْ لِي صَـدْرِيْ وَيَسِّرْلِي أَمْـِريْ وَاحْلُلْ عُقْـدَةً مِنْ لِسَـانِي يَفْقَـهُ قَـوْلِي …أَمَّـا بَعْد : قـال الله تعـالى في كتـابه الكريم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Yang terhormat….
Yang terhormat….
Hadirin dan hadirat yang di muliakan Alloh
Segala puji hanya milik Alloh, yang telah mengutus seorang rasul dengan membawa petunjuk dan agama yang hak. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap dilimpahkan depada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. dan keluarganya, para sahabatnya serta pengikutnya sampai hari kiamat. Aamiin Allohumma aamiin.. 
Hadirin dan hadirat yang berbahagia
Sebelum saya berpidato dihadapan saudara-saudara sekalian, terlebih dahulu marilah kita memanjatkan rasa syukur ke hadirat Alloh SWT. Yang telah memberikan nikmatnya kepada kita semua yakni nikmat iman, islam, kesehatan, sehingga pada kesempatan ini kita bisa berkumpul dan bersilaturrahmi di tempat yang berkah ini. Selanjutnya tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada pembawa acara yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berpidato dihadapan saudara-saudara sekalian. Adapun tema yang akan saya sampaikan kali ini adalah “REVITALISASI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA DALAM MENCEGAH DAN MENYELESAIKAN DISINTREGASI SOSIAL DI TENGAH TEKANAN GLOBALISASI”.

Saudara seiman dan seakidah
Sesuai dengan pidato tanpa teks Soekarno di depan sidang BPUPKI 1 Juni 1945, dengan semangat juang yang membara untuk mewujudkan kemerdekaan Founding Fathers kita menyatukan tekad untuk merumuskan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pertimbangan bahwa Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang sesuai dengan kemajemukan masyarakat Indonesia (Plural Society Indonesia), maka pada tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila ditetapkan sebagai Dasar Negara Indonesia. 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka. Namun setelah merdeka, justru kaum komunis hadir dan menyebarkan ajaran membenci dan memfitnah Islam itu lebih diaktifkan lagi. Ditekankan dalam doktrin komunis bahwa Islam itu kontra revolusi, subversive bahwa Islam itu anti Pancasila. Orang Islam hendak mendirikan Negara Islam dengan kekerasan, dan akan melakukan kudeta. Padahal hal tersebut tidak diterima dan bersebrangan dengan sebagian besar tokoh Islam di Indonesia. Ketika datang masa Orde Baru, Jenderal Nasution sendiri telah mengakui dalam beberapa kali pidatonya bahwa isu-isu anti Pancasila semacam itu di Zaman Orde Baru ini bukanlah tambah sepi, bahkan tambah santer yang diarahkan pada Islam.
Isu anti Pancasila, Kebhinekaan, NKRI dan sebagainya, pada beberapa momentum sering digulirkan dan ditujukan lebih banyak kepada umat Islam. Di lain sisi, wacana anti Islam, komunis dan kapitalis juga dipasangkan kepada pihak lainnya yang dianggap bersebrangan dengan pendapat yang ada. Meskipun disadari sikap berlebihan dan mudah memvonis terkadang juga menghinggapi keduanya untuk tidak dapat bersikap adil sehingga kontra produktif dengan kemajuan negara. Wacana anti Pancasila dan negara memang telah lama berlangsung di setiap masa. Hamka menyebutkan tentang hal ini sebelum dan sesudah masa kemerdekaan yang didapatkan di Indonesia. Beliau menjelaskan, bahwa bangsa Belanda menjajah negeri ini 350 tahun, beratus tahun lamanya itu diajarkan bahwa Islam berbahaya, Islam itu suka berontak melawan kekuasan yang ada, kalau tidak sesuai dengan Al Qur`an, niscaya akan ditentangnya.
Dalam hal ini Meskipun telah kita jawab dan akan terus kita jawab bahwa kaum Muslimin tidaklah anti-Pancasila, seperti yang telah terpancang pada mukaddimah Undang-Undang Dasar 45, adalah hasil yang ditanda tangani oleh Sembilan pemimpin bangsa, termasuk lima diantaranya ulama-ulama dan pemimpin Islam, tetapi keterangan kita tersebut tidak juga akan dipedulikan orang. Meskipun kita kemukakan 1001 penjelasan lagi bahwa tidak mungkin orang Islam anti-Pancasila sebab kelima dasar itu sebagian dari ajaran Islam, kebencian yang telah masuk ke dalam bawah sadar (indoktrinasi) tidaklah mungkin dihilangkan. Ia akan memakan waktu bertahun-lama-. Orang yang percaya kepada Tuhan pasti berperikemanusiaan. Orang yang percaya kepada Tuhan pasti mempertahankan persatuan Indonesia, pasti melakukan keadilan sosial, karena dia beriman kepada Tuhan. Sebab Persatuan Indonesia itu adalah janji kita sebagai bangsa yang sadar. Pancasila itu telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, sejak lahirnya Sarikat Islam yang dipelopori oleh Almarhum H.O.S. Tjokroaminoto.
“Pantjasila telah lama dimiliki  oleh bangsa Indonesia, jaitu sedjak seruan Islam sampai ke Indonesia dan diterima oleh bangsa Indonesia. Kita tak usah kuatir Falsafat Pantjasila akan terganggu, selama urat tunggangnya masih tetap kita pupuk, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Dalam tahun 1936 Muktamar Nahdlatul Ulama di Banjarmasin membuat keputusan yang sangat unik, yang nantinya akan melandasi sikap NU terhadap ideology, politik, dan pemerintahan di Indonesia. Terhadap pertanyaan status tanah Hindia belanda, yang sedang diperintah oleh para penguasa non-Muslim Belanda, haruskah ia dipertahankan dan dibela dari serangan luar, dikemukakan jawaban bahwa hal itu wajib dilakukan menurut hukum agama (fiqh). Diambilkan jawabannya dari slah stu genre “kitab kuning” yang berjudul Bughyatul Mustarsyiddin karya Syakh Hasan al-Hadrami, dikemukakan alasan pendapat tersebut; negeri ini pernah mengenal adanya kerajaan-kerajaan Islam, penduduknya sebagian masih menganut dan melaksanakan ajaran Islam, dan Islam sendiri tidak sedang dalam keadaan diganggu atau diusik. Negara damai atau sangga harus dipertahankan, karena syari’at (dalam bentuk hukum agama atau fiqh atau etika masyarakat) masih dilaksanakan oleh kaum Muslimin di dalamnya, walaupun tidak melalui legislasi dalam bentuk undang-undang negara.
Hukum yang demikian rinci, yang selama ini terpendam dalam khazanah kitab kuning bacaan para ulama madzhab syafi’i. ternyata diaplikasikan dengan tuntas dalam kehidupan bernegara kita dewasa ini oleh NU. Kalau hakikat keagamaan dari sikap NU ini tidak dimengerti, maka orang akan dengan mudah melihat NU tidak konsisten dalam pandangannya tentang Republik Indonesia. Di tahun 1945 menerima adanya negara berideologi Pancasila, kurang lebihnya negara dari kategori dar shulh atau negara damai atau sangga, bukan negara Islam dan tidak pula menentang Islam). Dalam konstituante di tahun 1958-1959 memperjuangkan berlakunya syari’at dalam undang-undang negara (berarti membuat negara Islam) , di tahun 1959 menerima dekrit presiden soekarno untuk memberlakukan kembali Undang-undang dasar 1945 , dan di tahun 1983-1984 menerima pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan. Penerimaan lain-lainnya adalah dalam konteks Republik Indonesia sebagai dar shulh, sedangkan “perjuangan” di Konstituante sebagai komitmen kepada idealism dar Islam, gagasan mengaplikasikan syari’at melalui legalasi undang-undang negara.dengan ungkapan lain, sikap mendirikan dar Islam pernah dilakukan , karena memang demikianlah perintah keagamaan yang harus diikuti. Namun, begitu  upaya itu memenuhi jalan buntu, kenyataan adanya dar shulh baru diterima dengan penuh kesungguhan . atas dasar cara berfikir beginilah diikuti kaidah fiqh (legal maxim yang berbunyi “ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh”, yang berarti “apa yamg tak mungkin terwujud seluruhnya, tak boleh ditinggalkan yang terpenting (di dalamnya)”. Secara keseluruhan, tentu wujud formal negara Islam yang semula diharapkan, tetapi dengan lahirnya republik Indonesia, harus diterima yang terpenting di dalamnya, yaitu adanya negara yang memungkinkan kaum muslimin melaksanakan ajaran agama mereka secara nyata.
Hadirin dan Hadirat yang dirahmati Allah
Memasuki abad 21, globalisasi telah mencapai puncaknya dan terjadi secara cepat serta tak terelakkan. Negara-negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai arena dan peserta pasar bebas. Perusahaan-perusahaan Eropa mendirikan cabang di Indonesia. Dengan kemampuan keuangan, perusahaan multinasional tersebut berhasil menigkatkan daya saingnya dan menguasai industri dalam negeri. Globalisasi yang semula diimajinasikan bisa membantu negara cepat berkembang, ternyata bagi dunia ketiga malah menyengsarakan. Inilah global paradoks dengan pasar bebas.
Oleh karena itu, yang terpenting bagi kita adalah berpikir ke depan dan tidak boleh lengah. Kesigapan dalam menghadapi arus Globalisasi di berbagai sektor dan mencari solusi menjadi pilihan baik dan bijak. Kesigapan ini penting agar bangsa kita tidak terus-menerus menjadi bangsa kelas tiga yang selalu menjadi sasaran Negara Barat. Semoga dengan keuletan, ketangguhan, kecerdasan, dan kegotongroyongan kita mampu membenahi kembali perekonomian bangsa yang sudah carut-marut ini dengan tetap mempertahankan ekonomi kerakyatan berlandaskan Pancasila.
Pancasila merupakan hasil ijtihad ulama dan kelompok nasionalis dalam merumuskan dasar negara Indonesia yang majemuk. Pancasila diramu dengan cara mengawinkan sistem berbasis modern dengan Islam dan kondisi yang ada di Indonesia. Pancasila mampu menyinkronkan hukum adat dan hukum Islam yang berlaku sebelumnya di berbagai kerajaan di Nusantara dengan hukum modern yang terus berubah sesuai perkembangan zaman. Bersama semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Jalan Keselamatan Berbangsa. itu, Pancasila terbukti mampu menyatukan keragaman yang ada di Indonesia, yang terdiri dari 1.340 suku. Pancasila juga menjamin hak kolektif seluruh warga negara tanpa membedakan identitas.
Bhinneka Tunggal Ika menjadi fitrah bagi umat Islam dan masyarakat pada umumnya. Sesuai yang tertulis dalam Al Quran, Allah menciptakan manusia berbeda suku dan bahasa supaya manusia bisa saling mengenal dan berbuat kebaikan di muka bumi.
Hadirin dan Hadirat yang Dimulyakan Allah.
Berbeda dengan HTI, yang sudah jelas merupakan gerakan politik yang akan menegakkan khilafah islamiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan Pancasila. Kemudian Pancasila dibenturkan dengan Islam itu sendiri padahal kan tidak ada pertentangan. ideologi khilafah islamiyah yang dianut HTI bertentangan dengan Pancasila. Selain itu, HTI juga berupaya membenturkan nilai-nilai Islam dengan ideologi Pancasila. Kyai Ma’ruf itu sudah punya data memang yang dibubarkan oleh pemerintah itu tentunya benar-benar melakukan pelanggaran dan melawan Pancasila.
Pancasila bukan agama, agama juga bukan Pancasila, Pancasila tidak boleh diagamakan dan agama tidak boleh dianggap sama dengan Pancasila. Karena Pancasila adalah hasil penggalian dari budaya yang ada di Indoneisa dari agama-agama dan kemudian menemukan titik temu pada penggalian tersebut. Maka Pancasila hanya merupakan titik temu  pada perempatan persilangan budaya dan persilangan antar agama maka terumuskanlah Pancasila. Yang pertama masalah ketuhanan, dua masalah kemanusiaan, ketiga masalah persatuan, keempat masalah demokrasi, dan yang kelima adalah masalah keadilan sosial.
Hal ini dibuktikan bahwa sila-sila Pancasila selaras dengan apa yang telah tergaris dalam al-Qur’an. 
Ketuhanan Yang Maha Esa. al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan dan selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengesakan Tuhan Dalam kacamata Islam, Tuhan adalah Allah semata. Namun, dalam pandangan agama lain Tuhan adalah yang mengatur kehidupan manusia, yang disembah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
 وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 163).

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila kedua ini mencerminkan nilai kemanusiaan dan bersikap adil. Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersikap adil dalam segala hal, adil terhadap diri sendiri, orang lain dan alam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Maa’idah: 8)

Persatuan Indonesia. Semua agama termasuk Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersatu dan menjaga kesatuan dan persatuan.
Hadis Nabi : dari Abu Hurairah r.a bahwasannya Rasulullah SAW, bersabda, “sesungguhnya Allah ridha kepada kalian dalam tiga perkara dan murka kepada kalian dalam tiga perkara. Allah ridha kepada kalian apabilah kalian menyembah-Nya dan kalian tidak memprsekutukan-Nya dengan sesuatu pun; apabila kalian saling menasehati dengan orang yang dikuasakan oleh Allah untuk mengurus perkara kalian. Allah murka kepada kalian dalam tiga perkara, yaituqil dan qal (banyak bicara atau berdebat), banyak banyak bertanya dan menyia-nyiakan (menghambur-hamburkan harta. (HR. Malik, Muslim dan Ahmad).
Firman Allah :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Imran 103)

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Pancasila dalam sila keempat ini selaras dengan apa yang telah digariskan al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Islam selalu mengajarkan untuk selalu bersikap bijaksana dalam mengatasi permasalahan kehidupan  dan selalu menekankan untuk menyelesaikannya dalam suasana demokratis
Firman Allah :
وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ
“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmahdan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Q.S Shaad: 20)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imron: 159).

Hadis Nabi : Dari Ibnu Abbas r.a berkata : “setelah turun ayat, ‘…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu …’(QS. Ali-Imran :159). Rasulullah SAW bersabdah : “Sesungguhnya Allah SWT sebagai rahmat untuk umatku. Maka barang siapa diantara mereka yang bermusyawara, ia tidak akan kehilangan petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkan musyawarah, ia tidak akan terlepas dari kekeliruan.” (HR. Ibnu Adiy dan Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan sanad yang jayyid)

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila yang menggambarkan terwujudnya rakyat adil, makmur, aman dan damai. Hal ini disebutkan dalam Al-qur’an :
۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (surat al-Nahl ayat 90).
Hadis Nabi : Dari Abu Bakrah r.a Rasulullah Saw, bersabdah, “tidak ada dosa yang paling layak untuk disegerakan Allah siksanya di dunia di samping siksa yang disiapkan untuk pelakunya di akhirat, selainal-bagyu (sikap permusuhan)  dan pemutusan silahturahmi.” (HR Turmuzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Namun, di sisi lain Hizbut Tahrir Indonesia secara tegas menolak keabsahan UUD 1945. Asas demokrasi yang dianut oleh UUD 1945 merupakan titik awal penolakan mereka terhadap UUD 1945 dan Pancasila. Mereka memandang UUD 1945 dan Pancasila tidak sesuai dengan nurani ajaran al-Qur’an. Dilema era globalisasi mempermudah penyebaran dan komunikasi serta segala aspek kehidupan, bagi golongan tertentu hal tersebut menjadi momok atau ketakutan tersendiri. Tak elak oknum-oknum tertentu justru bergegas ingin menjadi penguasa nomor satu di dunia dengan memanfaatkan kecepatan pergolakkan globaslisasi, melakukan terror dibarbagai kalangan, menciptakan jiwa jiwa kerdil dan ketakutan pada masyarakat, sehingga terjadi perpecahan antar sebangsa dan setanah air.
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَيَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلاَّمَن رَّحِمَ رَبُّكَ
“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu”. [Hud:118-119]
Jadi, ikhtilaf merupakan suratan takdir yang Allah kehendaki, tetapi Allah tidak meridhainya. Jika ada yang bertanya, ’bagaimana mungkin dua perkara dapat bersatu, yakni kehendak Allah dan kebencian-Nya?’ Maka jawabnya ialah, kehendak itu ada dua macam. Yaitu kehendak untuk diri sendiri dan kehendak untuk orang lain. Dengan itulah Islam menyatukan hati dan bangsa, hingga menjadi umat yang satu dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak akan ada yang mampu menyatukan hati dan merajut persatuan antara kelompok yang saling bertikai, kecuali dien ini. Dien yang dimaksud di sini ialah dien yang shahih. Karena dien yang palsu tidak akan mampu menyatukan hati, bahkan sebaliknya memecah-belah dan mencerai-beraikan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَىْءٍ إِنَّمَآأَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.” [Al An’am:159].
Allah memilih Bani Israel dengan mengutus beberapa para nabi dan rasul dari kalangan mereka, namun mereka melanggar dan mencampakkan Kitab ke belakang yang akhirnya mereka berpecah menjadi berbagai golongan dan kelompok. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :
” إِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ، وَاَفَترَقتِ النَّصَارَى عَلٰى اثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ، وَتَفْتَرِقُ إُمَّتِيْ عَلٰى ثَلاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ” رواه ابن حبان
”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, kaum Nashrani telah terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan”. (HR Ibnu Hiban)
Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan akan bahaya perpecahan sebagaimana sabda beliau :
” وَإيَّاكمْ وَالفرْقة ” رواه الترمذي
“Jauhilah perpecahan” HR Tirmizi
Beliau mengabarkan sebagai warning bakal terjadinya perpecahan itu pada umat ini. Sabda beliau :
” فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثيْراً “
“Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian sesudah aku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.  HR Ahmad
Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang hamba-hambaNya berbecah. Firman Allah:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران/ 103]
“Dan berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. Qs Ali Imran: 103
DijelaskanNya bahwa jalan Allah hanyalah satu; maka setiap jalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan setan yang akan mencerai-beraikan dan menjauhkan manusia dari Tuhannya yang Maha Penyayang. Firman Allah:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/153]
“Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”. Qs Al-An’am : 153
Allah –subhanahu wa ta’ala- berpesan kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang Dia pesankan kepada para nabi, yaitu menegakkan agama karena Allah dan menjauhi perpecahan. Firman Allah:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [ شورى / 13]
“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada kalian dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah”.( Qs Syura : 13)

Allah –subhanahu wa ta’ala- mencela perpecahan sekaligus pelakunya. Firman Allah:
” وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ” [ البقرة/ 176]
“ Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”. Qs Albaqarah : 176
Allah –subhanahu wa ta’ala- menggambarkan kondisi riel mereka dalam firmanNya:
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [ المؤمنون/ 53]
“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada masing-masing”. (Qs Al-Mu’minun : 53)
Bergelimang dalam kondisi yang demikian merupakan ciri-ciri orang-orang munafik.  Firman Allah:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ [ التوبة / 107]
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ialah orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin”. (Qs At-Taubah : 107)
Itu menjadi watak mereka. Firman Allah :
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ [ الحشر/ 14]
“ Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah”. (Qs Al-Hasyr : 14)
Dan itu pula ciri khas tradisi Jahiliyah. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:
“مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه مسلم
“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan kelompok (kaum muslimin) lalu ia mati, maka matinya dalam kondisi jahiliyah.” (HR. Muslim)
Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang meniru dan menempuh jalan kaum yang suka berpecah belah. Firman Allah :
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ [ آل عمران/ 105]
“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. Qs Ali Imran : 105
Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan terbebasnya Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dari kaum yang bercerai-berai itu. Firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ [ الأنعام / 159 ]
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka”. Qs Al-An’am : 159
Mereka menyempal dari ajaran Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan berseberangan dengan kaum muslimin. Firman Allah:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [ النساء / 115]
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (Qs An-Nisa : 115)
Perpecahan yang paling berat adalah berpaling dari Tauhid (peng-Esaan) kepada Allah Tuhan semesta alam. Firman Allah :
وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [ يونس/ 106]
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian),  maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (Qs Yunis : 106)
Sebagaimana halnya perbuatan mengada-ada dalam beragama merupakan penyimpangan pula dalam meneladani sebaik-baik Rasul. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :
” مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ” متفق عليه
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. (Muttafaq alaihi)
Menyempal dari para pemimpin dan penguasa, demikian pula merebut kekuasaan dari pemiliknya merupakan kerusakan besar. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:
” مَنْ نَزَعَ يَدًا مَنْ طَاعَةِ اللهِ ،  فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مَفَارِقٌ لِلْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه أحمد
“Barangsiapa yang mencabut tangannya dari mentaati imam, maka dia kelak hari kiamat tidak memiliki argumen. Dan barangsiapa mati dalam kondisi memisahkan diri dari kelompok kaum muslimin, maka ia mati dalam kondisi Jahiliyah”. (HR Ahmad)
Para Ulama adalah teladan baik dalam masyarakat. Mereka adalah figur-figur yang paling layak untuk hidup rukun dan bersatu padu, sebab perpecahan di antara mereka akan memicu tertolaknya kehadiran mereka.
Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Muaz dan Abu Musa Asy’ari –radhiyallahu anhuma- ketika beliau mengutus mereka ke Yaman :
” يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا،وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا ” متفق عليه
“Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, jangan kalian takut-takuti. Bekerjasamalah, janganlah berselisih”. (Muttafaq alaihi)
Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – melarang kita berpecah-belah dalam kebenaran. Sabda beliau :
” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا ” متفق عليه
“Bacalah Al-Qur’an selama menjadikan hati kalian bersatu padu, namun jika kalian berselisih, tinggalkanlah”. (Muttafaq alaihi)
Bercerai-berai dan tidak bersatu dalam melaksanakan shalat merupakan buah dominasi setan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :
” مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ ” رواه أبو داود
“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah mendominasi mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang mencar”. (HR Abu Dawud)
Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menyatakan ketidak sukaannya terhadap sikap cerai-berai ketika menunggu shalat. Jabir Bin Samurah –radhiyallahu anhu- berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- datang menemui kami. Jabir menuturkan : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- melihat kami saling mengelompok, lalu berkata :
” مَا لِى أرَاكُمْ عِزيْنَ – يَعْنِى مُتفرقين ” رواه مسلم
“Mengapa kalian aku lihat saling mengelompok, artinya saling memencar ?”. (HR Muslim.)
Dien yang dahulu telah berhasil menyatukan hati kaum muslimin inilah yang mampu menyatukan hati mereka kaum muslimin sekarang, sampai hari kemudian kelak dengan izin Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Darul Hijrah Malik bin Anas rahimahullah ,”Tidak akan baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan apa-apa yang telah menjadikan baik generasi awalnya.” Perkara yang telah menyatukan umat Islam dahulu itulah yang dapat menyatukan mereka sekarang. Dan perkara yang telah menyatukan generasi awal umat ini, ialah dien yang shahih. Generasi akhir umat ini tidak akan menjadi bersatu, kecuali dengan menegakkan dien yang shahih, aqidah yang bersih dan ketaatan (ittiba’) yang murni kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para hadirin yang dimulyakan Allah,
Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah \\\”lenyap\\\” dari kehidupan kita. Yakni, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:
1. Terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;
2. Perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);
3. Lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap \\\”manipulasi\\\” informasi dengan segala dampaknya.
Tantangan pembumian Pancasila makin terasa pelik di tengah arus globalisasi yang makin luas pengaruhnya, dalam penetrasinya, dan instan kecepatannya. Globalisasi merestukturisasi cara hidup umat manusia secara mendalam, nyaris pada setiap aspek kehidupan. Dengan arus globalisasi, setiap negara-bangsa menghadapi potensi ledakan pluralitas dari dalam dan tekanan keragaman dari luar. Tarikan global ke arah demokratisasi dan perlindungan hak-hak asasi memang menguat. Akan tetapi, oposisi dan antagonisme terhadap kecenderungan ini juga terjadi. Di seluruh dunia, ‘politik identitas’ (identity politics) yang mengukuhkan perbedaan identitas kolektif–etnik, ras, kelas dan status sosial, bahasa, agama, bahasa, dan bangsa–mengalami gelombang pasang. Karena setiap pencarian identitas memerlukan garis perbedaan dengan yang lain, politik identitas senantiasa merupakan politik penciptaan perbedaan. Apa yang harus diwaspadai dari kecenderungan ini bukanlah dialektika yang tak terhindarkan dari identitas/perbedaan, melainkan suatu kemungkinan munculnya keyakinan atavistik bahwa identitas hanya bisa dipertahankan dan diamankan dengan cara menghabisi perbedaan dan keberlainan (otherness). Dalam situasi seperti itu, eksistensi Indonesia sebagai republik dituntut untuk berdiri kukuh di atas prinsip dasarnya.
Pada dimensi etos, radikalisasi Pancasila diarahkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan daya juang agar Pancasila dapat menjiwai perumusan konstitusi, produk-produk perundangan, dan kebijakan publik, dengan menjaga keterkaitan antarsila dan keterhubungannya dengan realitas sosial. Dalam kaitan ini, Pancasila yang semula hanya melayani kepentingan vertikal (negara) harus diluaskan menjadi Pancasila yang melayani kepentingan horizontal (masyarakat), serta menjadikan Pancasila sebagai landasan kritik atas kebijakan negara. Kian hari kian banyak bangsa lain yang mengapresiasi dan meneladani Pancasila. Manakala ada tanda-tanda bangsa ini justru mulai meninggalkannya, 1 Juni merupakan momen kelahiran kembali semangat memuliakan Pancasila. Yang harus kita tangkap dari peringatan Hari Lahir Pancasila itu bukanlah abunya, melainkan apinya. Api kelahiran Pancasila adalah semangat berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme; semangat persatuan yang bulat-mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan; semangat membangun negara untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama.
Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang. Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saudara saudaraku kaum muslimin Rahimakumullah…

Demikian pidato yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan, sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah SWT Yang Maha Benar, dan yang salah, khilaf, atau keliru itu datangnya dari saya pribadi sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari salah, khilaf dan dosa.
قَبْلَ خِتَاَمِ هَذِهِ الخُطْبَةِ نَدْعُوْ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَكْتُبَ لَنَا السَّعَادَةَ وَالعِزَّةَ وَالتَّوْفِيْقَ وَاستَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَاللهُ وَليَّ الهِدَايَةَ وَالتَّوْفِيْقِ
 وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ورَحمة الله وبركاته

RUJUKKAN :
Ana Maratuthoharoh (SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo), Admin, Pancasila sebagai Dasar Membangun Demokrasi Ekonomi, 17 Juni 2009 
BJ. Habibie, Pidato Lengkap BJ Habibie yang Memukau,Jakarta 1 Juni 2011
Bambang Galih Setiawan, Islam dan Pancasila Menurut HAMKA,
https://inpasonline.com/islam-dan-pancasila-menurut-hamka/
Cermaha KH Hasyim Muzadi, Nilai Luhur Pancasil, Depok Januari 2016
Hamka, Dari Hati ke Hati, Jakarta: Gema Insani, 2016
Disampaikan HAMKA sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, pada pertemuan dengan Wanhankammas tanggal 25 Agustus 1976, dalam Yayasan Nurul Islam, Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka, Jakarta: Slipi Baru, 1978
Hamka, Urat Tunggang Pantjasila, Djakarta: Pustaka Keluarga, 1951
Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin dan Penjelasannya Syarah dan Takhrij, (Jakarta Timur : Ummul Qura, 2014)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan) 
KH As’ad Ali, Pancasila Hasil Ijtihad Ulama dan Nasionalis, Mengawinkan Sistem Modern dengan Islam, https://nasional.okezone.com/read/2017/10/06/337/1790244/kh-as-ad-ali-pancasila-hasil-ijtihad-ulama-dan-nasionalis-mengawinkan-sistem-modern-dengan-islam, Jurnalis · Jum’at 06 Oktober 2017 17:14 WIB 
Kristian Erdianto, Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Menurut MUI, Ideologi dan Aktivitas HTI Bertentangan dengan Pancasila”,
https://nasional.kompas.com/read/2017/07/21/05100001/menurut-mui-ideologi-dan-aktivitas-hti-bertentangan-dengan-pancasila
Kementrian Agama, Mushaf At-Tammam “Alqur’an dan Terjemahan”, (Solo : Tiga Serangkai, 2016) 
K. H. Abdurrahman Wahid, NU dan Pancasila, http://www.gusdur.net/id/gagasan/gagasan-gus-dur/nu-dan-pancasila, 2016 
Syaikh Ishamuddin Ash-Shababithi, Shahih Hadits Qudsi dan Syarahnya, (Jakarta : Pustaka Imam Syafi’I, 2016)
Teuku Muhammad Guci Syaifudin,Artikel ini telah tayang di  Kompas.com dengan judul “Ceramah di Yogyakarta, Aher Bicara Pancasila, Kebinekaan dan NKRI”,
https://regional.kompas.com/read/2017/06/05/10413121/ceramah.di.yogyakarta.aher.bicara.pancasila.kebinekaan.dan.nkri. Kontributor Yogyakarta, 2017 
Ustadz Abu Ihsan Al Atsari, Kiat-kiat Menghindari Perpecahan,Januari 2011
Ustadz Firanda.com, https://firanda.com/1709-bersatullah-dan-jangan-bercerai-berai.html
Zahro, 2006
___, https://hasanrizal.wordpress.com/2010/02/10/pancasila-dalam-perspektif-islam/, 2010 
___, https://mediaindonesia.com/read/detail/106569-menghidupkan-semangat-pancasila

Diterbitkan oleh Nurhayati, S.E, M.Sos.i

Job : Chief Accounting Pendidikkan : Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: